Mencegah Kemungkaran

Agama Islam adalah agama yang sempurna., segala kebaikan sudah dijelaskan dan diperintahkan oleh Qur’an dan Sunnah. Demikian pula kemungkaran, juga telah dijelaskan dan dilarang oleh syariat Islam. Tapi….., apa itu kemungkaran???dan bagaimana cara mencegahnya?. Serta siapa saja yang wajib mencegah kemungkaran?? untuk menjawab semua itu marilah kita telaah hadits yang mulia di bawah ini. Dan kepada Allah lah kami mengharap manfaat!

 عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال:سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان))  رواه مسلم

artinya: Dari abu sa’id alkhudriy radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: saya pernah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak bias, maka dengan lisannya, jika tidak bias maka dengan hatinya. maka yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman” (diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya pada kitab al-iman bab bayaanu kaunin nahyi ‘anil munkar minal iman 49/78)

 

PENJELASAN HADITS

Yang Wajib Mengubah Kemungkaran

Apakah maksud dari kata من رأى “yang melihat” adalah orang yang mengetahui suatu kemungkaran, walaupun tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri”,atau orang yang mendengarnya dengan telinganya, , ataukah yang dimaksud dengan melihat disini adalah jika ia benar-benar melihat dengan mata kepalanya???

memang  pada dhohir hadits disebutkan kata “melihat” akan tetapi maknanya mencakup  juga “yang mendengar, dan yang mengetahui kemungkaran”.

Makna Kemungkaran

kemudian apakah kemungkaran itu? kemungkaran adalah segala sesuatu yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan kemungkaran yang diperintahkan untuk mengubahnya hanyalah kemungkaran yang memang jelas-jelas mungkar dan dianggap mungkar oleh semua pihak, baik itu orang yang mencegahnya ataupun orang yang melakukannya. Atau orang yang melakukan kemungkaran itu tidak menganggapnya suatu kemungkaran akan tetapi ia berdalih dengan dalil yang lemah dan tidak ada asalnya. Adapun jika kemungkaran itu termasuk pada kategori ijtihad (seperti jumlah minimal jama’ah sholat jum’at yang para ulama’ berbeda pendapat tentangnya), maka tidak boleh seseorang mencegah orang lain melakukannya.

Contoh Mengubah Kemungkaran Dengan Tangan.

seseorang yang melihat temannya membawa minuman keras kemudian seseorang itu mengambil minuman keras itu dari temannya kemudian membuangnya.

saudaranya yang membawa gitar kemudian seseorang tersebut merebutnya dari tangan saudaranya dan merusaknya.

Jika Tidak Mampu Mengubah Kemungkaran Dengan Tangan

Jika seseorang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangannya maka hendaknya ia mengubahnya dengan lisannya, yakni dengan melarang orang yang hendak berbuat kemungkaran tersebut atau dengan mencela perbuatan mungkar tersebut dihadapan orang yang melakukannya, atau dengan menasehatinya, baik secara langsung dengan ucapan ataupun dengan tulisan-tulisan, seperti SMS, surat, dll.

Jika Tidak Mampu Dengan Lisan

Jika seseorang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan tangan, dan tidak pula dengan lisannya, maka hendaknya ia mengubahnya dengan hatinya, yakni dengan membenci kemungkaran tersebut dan berharap kemungkaran tersebut tidak terjadi. Dan ini adalah selemah-lemahnya iman, yakni lemah iman dalam perkara menngubah kemungkaran.

 

FAEDAH-FAEDAH HADITS

Dari hadits di atas, kita dapat mengambil beberapa faedah, yang diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan amanah kepada seluruh ummatnya untuk mencegah kemungkaran kemungkaran jika melihatnya. jadi tidak harus ada orang-orang khusus yang berprofesi sebagi pencegah kemungkaran. Dan apabila seseorang mencegah suatu kemungkaran kemudian dikatakan padanya: “siapa yang memberimu hak untuk melarang kami?, hendaknya ia mengatakan: nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah memberiku hak, karna nabi telah bersabda: “barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya………”
  2. Seseorang tidak boleh mengingkari atau mencegah kemungkaran kecuali apabila telah memenuhi dua syarat: ia harus yakin bahwa yang ia cegah benar-benar suatu kemungkaran dan ia harus yakin bahwa orang yang melakukannya juga mengangapnya sebagai suatu kemungkaran. karena terkadang sesuatu itu mungkar, tapi tidak mungkar bagi orang yang melakukannya, seperti: makan di siang hari pada bulan ramadan, sebenarnya adalah kemungkaran, tapi tidak disebut kemungkaran bagi orang yang sedang safar atau sakit.
  3. kemungkaran yang diperintahkan untuk mengubahnya adalah kemungkaran yang telah disepakati sebagai kemungkaran oleh semua pihak, bukan permasalahan khilafiyah.
  4. Jika seseorang takut akan terjadinya fitnah jika ia mengubah kemungkaran dengan tangannya, maka hendaknya ia tidak melakukannya.
  5. yang dimaksud dengan tangan pada hadits ini adalah semua panca indra yang bisa digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan. disebutkan kata tangan karena umumnya suatu pekerjaan itu dilakukan dengan tangan. Dan banyak nash-nash yang menisbatkan amalan pada tangan.  seperti firman Allah ta’ala pada Qs. as-syura:30, yang artinya: “apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri…”. Yang dimaksud dengan “perbuatan tanganmu” pada ayat tersebut adalah perbuatan tanganmu, kakimu, matamu, atau telingamu.
  6.  Agama Islam adalah agama yang mudah karena dalam agama Islam, kewajiban dilaksanakan berdasrkan batas kemampuan, sebagimana sabda Nabi: “jika tidak mampu maka dengan lisannya”. Dan ini adalah kaidah umum dalam syariat Islam. Allah ta’ala berfrman: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu …..” (Qs. at-Taghobun: 16). Allah juga berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..” (Qs. Al-baqarah: 286). Nabi shalallau ‘alaihi wasallam pun juga pernah bersabda: “apa saja yang aku larang, maka jauhilah. dan apa saja yang aku perintahkan, maka lakukanlah semampu kalian” (HR. Muslim)
  7.   Hati juga memiliki amalan, sebagaimana sabda Nabi,: “dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya”. maka hati memiliki amal perbuatan dan ucapan. ucapan hati adalah Aqidahnya, sedangkan amal perbuatannya adalah niat, roja’ khauf, dll.
  8. Iman adalah amal perbuatan dan niat, karena Nabi telah mengurutkannya, mengubah kemungkaran dengan tangan adalah amalan, dengan lisan adalah amalan, dan dengan hati adalah niat. Dan iman tidak hanya sebatas aqidah saja, tapi mencakup amalan-amalan. Nabi bersabda: “iman itu terbagi menjadi tujuh puluh cabang lebih, yang tertinggi adalah kalimat laa ilaha illallaah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu adalah bagian dari keimanan”. (HR. Bukhory).  kalimat laa ilaha illallaah adalah ucapan lisan, menyingkirkan gangguan dari jalan adalhamalan anggota badan, dan malu adalah amalan hati.
Iklan

2 thoughts on “Mencegah Kemungkaran

  1. Assalammu’alaikum….
    Memang benar tu, maka dari itu.. bagi saudaraQ seiman jangan sampai kebalik mengingkari dengan hati terus di akhiri dengan tindakan tangan…!!

    {sekalian ijin KoPas, tuk banyak beberapa tulisannya..!!}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s