Benda-benda Najis

najis

Agar ibadah seperti sholat, thawaf, membaca al-Qur an dan lainnya menjadi sah dan diterima di sisi Allah serta sempurna,  hendaknya seorang muslim memperhatikan anggota tubuh, pakaian, tempat ibadahnya dan lain sebagainya saat hendak melakukan ibadah. Ia harus memastikan bahwa anggota tubuh, pakaian, dan tempat ibadahnya bebas dari benda-benda najis.  Lalu benda apa sajakah yang najis? Dalam artikel singkat ini insyaAllah akan dibahas dengan singkat tentang beberapa benda yang najis. Semoga  bermanfaat. dan selamat membaca!

Hal-hal yang terdapat dalil atas kenajisannya adalah:
1. Air kencing  dan Kotoran manusia
Adapun dalil najisnya kotoran manusia adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ اْلأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُوْرٌ.

“Jika salah seorang di antara kalian menginjak al-adzaa (najis/) dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya.” [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 834) dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/47 no. 381) ].

Al-Adzaa adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran, batu, duri, dan sebagainya [‘Aunul Ma’buud (II/44)]. Dan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah najis, sebagaimana yang tampak jelas.

Sedangkan dalil (najisnya) air kencing adalah hadits Anas Radhiyallahu anhu : “Seorang Arab Badui kencing di masjid. Lalu segolongan orang menghampirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Biarkanlah ia, jangan kalian hentikan kencingnya.’” Anas melanjutkan, “Tatkala ia sudah menyelesaikan kencingnya, beliau memerintahkan agar dibawakan setimba air lalu diguyurkan di atasnya.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/246 no. 284)], ini adalah lafazhnya. Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/449 no. 6025), secara ringkas]

2.  Madzi dan  Wadi
Madzi, yaitu cairan putih (bening), encer, dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dia tidak keluar dengan syahwat, tidak menyembur, dan tidak pula diikuti lemas. Terkadang keluar tanpa terasa. Dialami pria maupun wanita.       [ Syarh Muslim, karya an-Nawawi (III/213)]

Madzi adalah najis. Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh membasuh kemaluan darinya. ‘Ali Radhiyallahu anhu berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering keluar madzi. Aku malu menanyakannya pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kedudukan puteri beliau. Lalu kusuruh al-Miqdad bin al-Aswad untuk menanyakannya.Beliau lantas bersabda:

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ.

‘Dia harus membasuh kemaluannya dan berwudhu.’” [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih Muslim (I/247 no. 303), ini adalah lafazhnya. Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/230 no. 132), Mukhtashar]

Sedangkan wadi adalah cairan putih (bening) dan kental yang keluar setelah kencing.[ Fiqhus Sunnah (I/24)]
Wadi adalah najis. Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Mani, wadi, dan madzi. Adapun mani, maka wajib mandi. Sedangkan untuk wadi dan madzi, beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda:

اِغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيْرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ.

‘Basuhlah dzakar atau kemaluanmu dan wudhulah sebagaimana engkau berwudhu untuk shalat.’” [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 190)], dan al-Baihaqi (I/115)]

3. Kotoran hewan yang tidak halal dimakan dagingnya
Dari ‘Abdullah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak buang hajat, beliau berkata, ‘Bawakan aku tiga batu.’ Aku menemukan dua batu dan sebuah kotoran keledai. Lalu beliau mengambil kedua batu itu dan membuang kotoran tadi lalu berkata:

هِيَ رِجْسٌ.

“(Kotoran) itu najis.” [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 2530], dan Shahiih Ibni Khuzaimah (I/39 no. 70). Disebutkan dalam riwayat lain tanpa lafazh (keledai). Hal ini diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/256 no. 156), Sunan an-Nasa-i (I/39), Sunan at-Tirmidzi (I/13/17), Sunan Ibni Majah (I/114 no. 314)]

4. Darah haidh
Dari Asma’ binti Abi Bakar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Baju seorang di antara kami terkena darah haidh, apa yang harus ia lakukan?’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّي فِيْهِ.

“Keriklah, kucek dengan air, lalu guyurlah. Kemudian shalatlah dengan (baju) itu.” [Muttafaq ‘alaihi: [Shahiih Muslim (I/240 no. 291), ini adalah lafazhnya. Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/410 no. 307)]

6. Air liur anjing
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

طَهُوْرُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ.

“(Cara) menyucikan bejana salah seorang di antara kalian jika dijilat anjing adalah membasuhnya tujuh kali. Yang pertama dengan tanah.” [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3933), dan Shahiih Muslim (I/234 no. 276 (91)]

7. Bangkai
Yaitu segala sesuatu yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Dasarnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا دُبِغَ اْلإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ.

“Jika (al-ihaaab) telah disamak, maka sucilah ia.” [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 511)], Shahiih Muslim (I/277 no. 366), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XI/181 no. 4105)]

Al-ihaaab adalah kulit hewan yang telah mati (bangkai). Dikecualikan dari hal ini:
Pertama : Bangkai ikan dan jangkrik.
Dasarnya adalah hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ: أَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ فْالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ.

“Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Kedua bangkai itu adalah ikan dan jangkrik. Sedangkan kedua darah tersebut adalah hati dan limpa.” [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 210), Ahmad (al-Fat-hur Rabbaani I/255 no. 96), dan al-Baihaqi (I/254)]

Kedua : Bangkai hewan yang tidak berdarah. Seperti lalat, semut, lebah, dan sebagainya.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي اْلآخَرِ شِفَاءً.

“Jika seekor lalat jatuh ke dalam bejana salah seorang di antara kalian, maka benamkan semua lalu buanglah ia. Karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit, sedangkan pada sisi lainnya terdapat penawar.” [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 837), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (X/250 no. 57, 82), dan Sunan Ibni Majah (II/1159 no. 3505)]

Ketiga : Tulang bangkai, tanduk, kuku, rambut dan bulunya.
Semuanya suci, merujuk pada keasliannya, yaitu suci. Dasarnya hadits yang diriwayatkan al-Bukhari secara mu’allaq [I/342]. Dia mengatakan bahwa az-Zuhri berkata tentang tulang bangkai -seperti gajah dan sebagainya-, “Aku mendapati beberapa kalangan ulama terdahulu bersisir dan berminyak dengannya. Mereka tidak mempermasalahkannya.”
Hammad berkata, “Tidak ada masalah dengan bulu bangkai.”

Sumber: http://almanhaj.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s